Penyanyi yang Suaranya Hanya Terdengar Saat Hujan

 “Penyanyi yang Suaranya Hanya Terdengar Saat Hujan”

---

Bab 1: Kota yang Tak Pernah Menangis

Di kota kecil bernama Léris, hujan tidak pernah turun selama tiga puluh tahun. Langitnya selalu kering, dan udara penuh debu. Orang-orang lupa cara merindukan hujan, dan bahkan anak-anak mengira air yang jatuh dari langit hanyalah dongeng.

Namun, di pinggiran kota, ada seorang wanita bernama Marenne yang setiap sore duduk di depan rumahnya sambil menyanyi... walau tak ada suara yang terdengar.

“Dia gila,” kata sebagian orang.
“Dia penyihir,” kata lainnya.
Tapi seorang anak bernama Jion percaya: “Dia sedang menunggu hujan.”


---

Bab 2: Suara yang Disimpan Awan

Jion pernah bertanya langsung, “Mengapa kau bernyanyi padahal tak ada yang bisa mendengarnya?”

Marenne menjawab dengan lembut, “Suaraku hanya bisa mengalir jika langit menangis. Dan langit tidak akan menangis... jika tidak ada yang menyanyikannya.”

Marenne tidak menyanyi untuk manusia. Ia menyanyi untuk langit yang kesepian.


---

Bab 3: Hujan yang Terlupakan

Di rumah tua Marenne, ada lemari penuh buku lagu. Tapi semua notasi musik di dalamnya kosong. Ia menulis lagu-lagu yang tak bisa dinyanyikan karena dunia terlalu kering untuk mendengarnya.

“Setiap lagu,” katanya, “hanya akan terdengar jika hatimu cukup basah oleh rindu.”


---

Bab 4: Anak yang Membawa Air Mata

Jion, setelah melihat ibunya jatuh sakit, akhirnya menangis diam-diam di bawah pohon. Setetes air matanya jatuh ke tanah kering, dan… daun-daun bergetar.

Itulah kali pertama dalam tiga dekade, langit kota Léris menjadi kelabu. Dan dari kejauhan, samar-samar, terdengar suara…

“La la la... hujan datang membawa pulang...”


---

Bab 5: Suara yang Membelah Langit

Ketika hujan mulai turun tipis, suara Marenne terdengar untuk pertama kalinya — jernih, menyayat, dan menyembuhkan.

Orang-orang berhenti. Mereka menangis, entah mengapa. Setiap tetes hujan terasa seperti bait lagu yang sudah lama hilang.

Dan Jion berkata pelan: “Dia tidak pernah gila. Dia... penyanyi langit.”


---

Bab 6: Lagu-Lagu yang Menumbuhkan Kehidupan

Dengan setiap nyanyian, taman-taman mulai hidup kembali. Bunga-bunga tumbuh dari batu, pohon muncul di tengah aspal, dan sungai kecil mengalir di gang-gang kota.

Namun Marenne berkata, “Hujan ini tidak akan bertahan... jika kalian tidak ikut bernyanyi.”


---

Bab 7: Paduan Suara yang Terlambat

Mula-mula, hanya satu anak kecil yang ikut bersenandung. Lalu ibu-ibu. Lalu para buruh. Lalu polisi. Lalu seluruh kota.

Mereka bernyanyi dengan suara serak, salah nada, dan patah-patah. Tapi hujan tetap turun. Bahkan lebih deras.

Dan suara Marenne kini menggema dari langit — seolah-olah ia menyanyi bersama awan itu sendiri.


---

Bab 8: Malam Terakhir Sang Penyanyi

Marenne tidur malam itu dengan tersenyum. Ia memeluk selembar partitur kosong dan berkata pada Jion, “Besok, suaraku akan berhenti. Tapi laguku akan hidup di kalian.”

Pagi harinya, hujan masih turun. Tapi rumah Marenne kosong. Ia menghilang… bersama kabut pagi.


---

Bab 9: Festival Hujan

Tiap tahun, kota Léris mengadakan Festival Hujan. Mereka bernyanyi di jalanan, membaca puisi dari air, dan mengajarkan anak-anak cara menulis lagu yang hanya bisa didengar saat langit menangis.

Mereka menyebutnya Lagu Marenne — melodi yang tak bisa dituliskan, tapi bisa dikenang.


---

Bab 10: Dan Jika Kau Mendengar Lagu Itu...

Jika suatu hari kau berjalan di bawah hujan, dan tiba-tiba kau mendengar melodi halus seperti suara ibu atau mimpi yang hampir terlupakan…

Itu adalah suara Marenne.
Itu adalah suara hatimu.
Itu adalah lagu yang hanya bisa didengar...
saat kau cukup berani untuk merindukan sesuatu yang hilang.


---

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI
PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG UNTUK KEPENTINGAN PENDAFTARAN ADSENSE

Post a Comment for " Penyanyi yang Suaranya Hanya Terdengar Saat Hujan"

home