Tukang Cukur yang Bisa Memotong Kenangan
“Tukang Cukur yang Bisa Memotong Kenangan”
---
Bab 1: Toko Pangkas di Tengah Jalan Buntu
Di ujung jalan buntu Kota Mirien, berdiri sebuah toko cukur kecil tanpa jendela, tanpa papan nama. Hanya satu kata terukir samar di pintunya:
> “Lupa.”
Orang yang benar-benar ingin melupakan sesuatu… akan secara misterius menemukannya.
Dan di dalamnya, ada seorang pria tua dengan rambut putih licin, jubah hitam panjang, dan mata kelabu — namanya hanya dikenal sebagai Herr Noct.
---
Bab 2: Potong Rambut, Potong Masa Lalu
Setiap kali seseorang duduk di kursi Herr Noct, ia bertanya,
> “Apa yang ingin Anda buang hari ini — ujung rambut, atau ujung luka?”
Dan jika pelanggan menjawab,
> “Luka.”
Herr Noct akan mengambil gunting bersinar dan memotong rambut itu… bersamaan dengan potongan kenangan.
Tapi ada aturan:
1. Kenangan yang terpotong tidak akan kembali.
2. Kenangan orang lain yang terkait… juga ikut memudar.
3. Semakin dalam luka, semakin besar harga yang dibayar.
---
Bab 3: Klien Pertama: Seorang Ibu
Seorang ibu datang, kehilangan anaknya karena kecelakaan. Ia berkata, “Saya ingin melupakan tanggal itu. Suara itu. Wajahnya saat terakhir.”
Setelah rambutnya dipotong, ia tersenyum. Tapi ketika pulang… ia melihat kamar anaknya seperti milik orang asing. Ia bahkan tak tahu mengapa ada foto anak kecil di dompetnya.
Kenangan hilang, luka hilang… cinta pun ikut hilang.
---
Bab 4: Klien Kedua: Seorang Pemuda
Seorang pemuda bernama Lior datang dengan mata berkantung dan tangan gemetar.
“Aku ingin melupakan seluruh tahun ini. Seluruh orang. Seluruh rasa sakit.”
Herr Noct memotong rambutnya. Potongan demi potongan kenangan terbang seperti debu emas. Namun saat selesai…
Lior tak tahu siapa namanya. Ia lupa tujuan hidupnya. Ia menjadi kosong.
---
Bab 5: Gadis dengan Luka Tak Terucap
Lalu datang seorang gadis muda bernama Serin. Ia hanya berkata:
> “Aku tidak ingin melupakan. Aku hanya ingin bisa menahan ingatan ini tanpa hancur.”
Herr Noct terdiam. Untuk pertama kalinya… ia tidak langsung mengangkat gunting.
Ia berkata, “Aku bisa mengajarkanmu cara menyisir kenangan. Tapi kau harus berani melihatnya langsung — tanpa menutup mata.”
---
Bab 6: Menyisir Luka
Selama tujuh malam, Serin datang ke toko itu. Bukan untuk dipotong, tapi untuk menceritakan kenangannya.
Tentang ayah yang meninggalkannya. Tentang lagu yang tak bisa ia nyanyikan lagi. Tentang rumah yang ia hindari di setiap mimpi.
Setiap malam, Herr Noct menyisir rambutnya perlahan, dan berkata:
> “Ingat, tapi jangan hancur. Lihat, tapi jangan larut.”
Dan rambutnya tumbuh semakin kuat. Jiwanya pun.
---
Bab 7: Pengakuan Herr Noct
Di malam terakhir, Herr Noct membuka buku catatannya. Di sana tertulis semua nama yang ia bantu “lupakan.”
Ia menunjuk namanya sendiri… yang tidak ada di sana.
“Aku pun pernah duduk di kursi ini. Tapi tak pernah cukup berani untuk melihat luka tanpa mengguntingnya.”
Serin menatapnya dan berkata, “Mungkin kau tidak butuh gunting. Kau butuh seseorang untuk menyisirkan masa lalumu.”
---
Bab 8: Kota yang Mulai Ingat
Setelah hari itu, orang-orang mulai berdatangan ke toko bukan untuk melupakan… tapi untuk mengingat dengan cara baru.
Herr Noct mengganti nama tokonya menjadi:
> “Kenangan, Dipelihara.”
Orang datang, bercerita, menangis, tertawa… dan pergi dengan rambut rapi, serta hati yang lebih utuh.
---
Bab 9: Rambut Tak Lagi Hilang
Kini, Herr Noct tidak memotong rambut untuk melupakan, tapi untuk menata ingatan. Setiap helai yang jatuh, ia tanam di halaman belakang, tumbuh menjadi bunga aneh berwarna perak.
Bunga-bunga itu hanya mekar saat seseorang mengingat kembali sesuatu yang menyakitkan… dengan senyum.
---
Bab 10: Dan Jika Kau Menemukan Toko Itu...
Jika suatu hari kau berjalan tanpa arah dan melihat toko kecil tanpa nama, dengan kaca buram dan aroma kayu manis… mungkin itu tempatnya.
Dan jika kau masuk, dan seorang pria tua bertanya,
> “Apa yang ingin Anda buang hari ini?”
Mungkin, kau bisa jawab:
> “Tidak ada. Saya ingin menyisir luka ini… agar bisa saya bawa dengan tenang.”
---
Post a Comment for " Tukang Cukur yang Bisa Memotong Kenangan"