Pohon yang Hanya Tumbuh dari Cerita
“Pohon yang Hanya Tumbuh dari Cerita”
Genre: Dongeng penutup penuh makna dan harapan
Tema: Imajinasi, warisan kisah, dan kekuatan kata-kata---
Bab 1: Desa Tanpa Cerita
Di sebuah lembah bernama Quina, semua tumbuhan layu, langit kelabu, dan anak-anak tumbuh tanpa dongeng sebelum tidur. Orang-orang lupa cara bercerita. Mereka hanya bicara untuk bertransaksi: jual-beli, instruksi, perintah.
Tidak ada tawa di malam hari. Tidak ada buku.
Dan di tengah desa, berdiri sebidang tanah kosong yang diyakini penduduk sebagai tanah mati.
---
Bab 2: Anak Yatim dan Buku Kosong
Seorang anak yatim piatu bernama Nilo tinggal bersama kakeknya. Sang kakek adalah satu-satunya orang yang masih punya rak buku — walau semua halamannya kosong.
“Kenapa kau simpan buku tanpa isi?” tanya Nilo.
Sang kakek menjawab, “Karena cerita hanya akan muncul… jika kita berani mulai bicara.”
Malam itu, sang kakek sakit keras. Sebelum tidur, ia berkata, “Besok pagi, bacakan cerita untukku, ya.”
---
Bab 3: Kisah Pertama
Nilo tak tahu harus membacakan apa. Tapi ia membuka salah satu buku kosong dan mulai mengarang.
> “Dulu, ada seekor rubah yang ingin terbang...”
Keesokan paginya, saat ia keluar rumah — di tanah mati itu tumbuh satu tunas mungil.
---
Bab 4: Desas-desus Pohon Cerita
Tunas itu tumbuh setiap kali Nilo menceritakan sesuatu. Semakin banyak ia bercerita, semakin cepat pohon itu naik.
Orang-orang terheran. “Itu mustahil.”
Tapi beberapa anak mulai duduk mendengarkan cerita Nilo.
Lalu beberapa ibu.
Lalu para kakek-nenek yang dulu diam — akhirnya bicara lagi.
Dan di tengah tanah mati itu… pohon tumbuh menjulang.
Pohon pertama di Quina.
---
Bab 5: Setiap Cerita Punya Rasa
Uniknya, pohon itu berubah bentuk tergantung cerita yang diceritakan:
Cerita sedih membuat daun-daunnya biru dan berembun.
Cerita lucu membuat buah-buahnya tumbuh lonjong dan meletup seperti popcorn.
Cerita cinta membuat rantingnya tumbuh melingkar seperti pelukan.
Cerita takut membuat batangnya bergetar lembut.
Cerita bukan sekadar dongeng — cerita adalah energi hidup.
---
Bab 6: Mereka yang Menolak Cerita
Namun, beberapa warga menganggap cerita sebagai “hal yang membuang waktu.”
“Anak-anak harus belajar hitung, bukan berkhayal!”
“Pohon ini hanya tipu daya!”
“Tidak ada manfaat dari dongeng!”
Satu malam, mereka membakar buku-buku kosong milik Nilo.
---
Bab 7: Pohon yang Menangis
Esoknya, pohon cerita meranggas. Daunnya jatuh. Buahnya membusuk. Ranting-rantingnya kering.
Anak-anak menangis. Desa kembali sunyi. Tapi saat malam tiba, Nilo mengambil ranting pohon dan menulis cerita di tanah:
> “Suatu hari, di sebuah desa penuh diam, seseorang menanam kalimat…”
Ranting itu berpendar. Dan pohon kembali hidup — lebih kuat dari sebelumnya.
---
Bab 8: Kebangkitan Cerita
Kini, setiap orang mulai menyumbang cerita:
Seorang ibu bercerita tentang hari ia melahirkan sambil hujan badai.
Seorang tukang roti bercerita tentang roti pertama yang gagal dan gosong.
Seorang anak bercerita tentang teman khayalannya yang tinggal di bawah tempat tidur.
Dan setiap malam… pohon itu bersinar seperti lentera raksasa.
---
Bab 9: Pohon Warisan
Ketika sang kakek meninggal, Nilo menanam satu buku kosong di bawah pohon.
Dari situ tumbuh pohon kedua — dengan daun berbentuk huruf.
Dan tumbuh lagi.
Dan lagi.
Sampai seluruh desa menjadi hutan cerita.
Dan setiap anak diberi satu buku kosong untuk diisi, bukan dengan pelajaran, tapi dengan kisah hidupnya sendiri.
---
Bab 10: Dan Jika Kau Lewat Hutan Itu...
Orang-orang dari luar desa datang untuk melihat hutan cerita. Mereka duduk di bawah pohon dan berkata, “Aku ingat... nenekku pernah bilang…”
Dan kalimat itu menjadi akar baru. Dahan baru. Buah baru.
Karena kini, semua orang sadar:
> “Cerita bukan untuk didengar. Cerita adalah cara dunia tetap hidup.”
Dan jika kau duduk diam di hutan itu…
Kau bisa mendengar bisikan pohon, yang mungkin berkata:
> “Sekarang giliranmu… bercerita.”
---
Post a Comment for "Pohon yang Hanya Tumbuh dari Cerita"