Anak Lelaki yang Tidak Bisa Berbohong
“Anak Lelaki yang Tidak Bisa Berbohong”
---
Bab 1: Di Desa di Mana Semua Orang Menyembunyikan Sesuatu
Di negeri Faromont, di desa kecil bernama Brilhen, semua orang pandai menyembunyikan sesuatu. Ibu menyembunyikan air mata di balik roti hangat, anak-anak menyembunyikan rasa takut di balik tawa, dan para lelaki menyembunyikan dendam di balik berjabat tangan.
Namun ada satu anak lelaki... yang tidak bisa menyembunyikan apa pun. Namanya Léo.
Léo dilahirkan di bawah gerhana matahari total. Ibunya bilang, “Kau akan menjadi terang yang tak bisa dibayangi.” Tapi ternyata, itu kutukan. Léo tidak bisa berkata bohong. Bahkan jika ia ingin melindungi seseorang, ia tetap mengatakan yang sebenarnya.
---
Bab 2: Tersisih Karena Kejujuran
Saat anak-anak lain bermain pura-pura menjadi raja dan ratu, Léo berkata, “Tapi kau bukan raja, hanya anak tukang kayu.”
Saat kepala desa bertanya, “Apakah kau senang tinggal di desa ini?” Léo menjawab, “Tidak, semua orang tampak berpura-pura.”
Dan saat seorang wanita tua menangis karena kehilangan perhiasannya, Léo berkata, “Itu disembunyikan di bawah lantai, oleh cucumu sendiri.”
Kejujuran Léo membuatnya dijauhi. Bukan karena ia jahat, tapi karena kebenaran... seringkali lebih menakutkan daripada kebohongan.
---
Bab 3: Sang Raja Mendengar Cerita
Pada suatu hari, cerita tentang anak lelaki yang tidak bisa berbohong sampai ke telinga Raja Elmar, penguasa Kerajaan Vihrendahl. Sang Raja tertarik, bukan karena ingin memuji Léo — tapi karena ia mencurigai bahwa ada pengkhianat di istananya.
“Bawa anak itu kepadaku,” perintahnya.
Dan begitu Léo datang, Raja langsung bertanya, “Siapa yang di antara para penasihatku ingin menjatuhkanku?”
Léo menatap satu per satu wajah bangsawan di sekeliling singgasana. Ia menunjuk seorang pria tua bersorban ungu: “Dia... menyembunyikan surat dari Kerajaan Darsa yang isinya menawarkan pengkhianatan.”
Penasihat itu langsung pucat, dan surat ditemukan di balik jubahnya. Raja tercengang. Anak ini nyata. Tak bisa bohong.
---
Bab 4: Anak yang Jadi Kunci Kerajaan
Raja Elmar menjadikan Léo sebagai Penjaga Kebenaran — posisi khusus di istana yang digunakan untuk menyelesaikan kasus, memutuskan hukum, bahkan memilih calon istri sang raja.
Namun sesuatu terjadi.
Léo berkata di depan pesta besar, “Yang akan Anda nikahi, bukanlah wanita yang mencintai Anda, tapi yang mencintai mahkota Anda.”
Seluruh istana hening. Sang calon permaisuri, Putri Irelle, tersenyum kecut dan berkata, “Bocah ini berbahaya.”
Dan begitulah... rencana pun disusun untuk menyingkirkannya.
---
Bab 5: Dikhianati oleh Kebenaran
Malam itu, Léo diberi makanan dari dapur kerajaan. Tapi sebelum makan, ia berkata, “Ada sesuatu yang aneh.” Ia mencium aroma racun di daging.
Ia tidak makan.
Namun keesokan harinya, pelayan yang memberinya makanan ditemukan tak bernyawa. Dan semua tuduhan diarahkan pada Léo.
“Aku tidak membunuh siapa pun,” katanya.
Tapi para bangsawan tahu — anak ini terlalu jujur untuk dibiarkan hidup. Karena kebenaran... mengancam semua yang dibangun di atas sandiwara.
---
Bab 6: Pengasingan
Léo diusir. Ia tidak dihukum mati karena rakyat sudah mencintainya. Namun ia diasingkan ke Hutan Grinmire — tempat yang konon dihuni bayangan dari orang-orang yang tidak memiliki wajah.
Ia hidup sendiri selama tujuh tahun. Tapi selama itu, ia menulis — kisah-kisah kebenaran, kesaksian yang tak terbantahkan. Ia menulis bukan dengan tinta, tapi dengan napas pada daun, dengan bekas langkah pada salju, dengan bisikan pada angin.
---
Bab 7: Kembalinya Sang Anak Jujur
Kerajaan Vihrendahl hancur perlahan oleh korupsi dan kebohongan. Raja Elmar menjadi tua dan gelisah. Sebelum mati, ia memerintahkan satu hal terakhir:
“Cari Léo... dan minta maaf.”
Tapi ketika mereka menemukannya, Léo telah berubah. Ia tak lagi anak kecil. Ia menjadi pemuda bijak, tenang, dan sangat... berbahaya bagi siapa pun yang tak jujur.
---
Bab 8: Rakyat Memilih
Léo menolak kembali ke istana. Tapi rakyat datang padanya, satu per satu, dan berkata:
“Ajari kami berkata jujur.”
Dan ia melakukannya. Ia mendirikan Sekolah Terbuka Kebenaran. Siapa pun yang masuk, harus bersedia melepaskan topeng.
Lambat laun, desa-desa mulai jujur. Orang-orang mulai berani menangis, tertawa, menyalahkan diri sendiri, dan memaafkan.
---
Bab 9: Keajaiban Terjadi
Suatu hari, di pertengahan musim semi, seorang anak kecil berkata pada ibunya, “Aku takut.” Dan sang ibu tidak menenangkannya dengan kebohongan. Ia menjawab, “Aku juga takut. Tapi kita akan lewati bersama.”
Itulah hari pertama dunia benar-benar berubah.
Karena keajaiban bukan tentang sihir. Keajaiban adalah ketika manusia... akhirnya bisa jujur, dan diterima.
---
Bab 10: Kisah yang Dikenang
Léo tidak pernah menjadi raja. Ia tidak pernah tinggal di istana.
Tapi di setiap rumah, ada cerita tentang anak yang tidak bisa berbohong. Dan setiap orang tua berdoa agar anaknya memiliki hati seperti Léo:
— jujur, walau menyakitkan.
— benar, walau sendiri.
— hidup, walau tak diinginkan oleh para pendusta.
Dan begitulah... dongeng ini tak pernah selesai. Karena selama masih ada kebenaran yang perlu dikatakan, Léo akan hidup dalam kata-kata mereka.
---
Post a Comment for " Anak Lelaki yang Tidak Bisa Berbohong"