Penjaga Gerbang yang Tak Pernah Tidur
“Penjaga Gerbang yang Tak Pernah Tidur”
---
Bab 1: Gerbang yang Tidak Menuju Ke Mana-Mana
Di puncak paling tinggi dari Pegunungan Skath, berdirilah sebuah gerbang kuno dari batu biru kehijauan. Tak ada jalan menuju ke sana, dan tak ada jalan keluar dari sana. Gerbang itu berdiri sendiri — seolah-olah dibangun oleh waktu, bukan oleh tangan manusia.
Setiap hari, hujan turun. Setiap malam, bintang menolak bersinar di atasnya. Dan di hadapan gerbang itu berdirilah seorang pria — diam, tegap, dan abadi. Namanya: Maelis.
Tidak ada yang tahu sejak kapan ia di sana. Tapi legenda mengatakan: selama Maelis berjaga, dunia akan tetap seimbang. Jika ia tertidur… gerbang akan terbuka. Dan sesuatu yang tak boleh masuk akan kembali.
---
Bab 2: Anak Perempuan dari Lembah Ketujuh
Di sebuah desa kecil di lembah bawah, tinggallah seorang anak perempuan bernama Aneth. Ia tumbuh tanpa ayah, tanpa cerita, hanya dengan ibunya yang bisu. Setiap malam, Aneth memimpikan sosok pria tinggi yang berdiri di hadapan gerbang. Ia tidak tahu mengapa wajah itu terasa... familiar.
Ketika ia bertanya pada pendeta desa, sang pendeta gemetar dan berkata, “Itu bukan mimpi. Itu warisan darahmu.”
Dan Aneth pun tahu: ia harus pergi ke gerbang.
---
Bab 3: Perjalanan Tanpa Jejak
Perjalanan menuju gerbang tak bisa dilalui dengan peta. Ia harus menyeberangi Hutan Bayang, mendaki Bukit Lupa, dan menyeberangi Danau Tanpa Permukaan.
Setiap langkah Aneth diiringi suara-suara: bisikan keraguan, jeritan ketakutan, rayuan untuk kembali.
Tapi ia melanjutkan. Karena sesuatu dalam dirinya berkata: Seseorang di sana menunggu untuk digantikan.
---
Bab 4: Pertemuan yang Tak Pernah Ditakdirkan
Ketika Aneth akhirnya tiba di hadapan Maelis, pria itu menatapnya sejenak — matanya seperti sungai beku yang menahan banjir selama ribuan tahun.
“Kau... darahku,” katanya.
Aneth tidak mengerti.
Maelis melanjutkan, “Aku adalah ayahmu. Dan aku berdiri di sini... bukan karena aku ingin. Tapi karena ketika aku masih muda, aku membuka gerbang ini.”
---
Bab 5: Gerbang yang Menyimpan Waktu
Di balik gerbang ada waktu yang rusak. Setiap kemungkinan yang ditolak oleh dunia nyata — kesedihan yang tak pernah terjadi, perang yang dicegah, cinta yang tak pernah diucapkan — semuanya berputar di sana.
“Jika gerbang ini terbuka,” kata Maelis, “semua versi masa lalu akan tumpang tindih. Dunia akan kacau.”
Aneth bertanya, “Lalu mengapa kau tidak tidur walau sedetik?”
Maelis menjawab, “Karena mimpi adalah celah.”
---
Bab 6: Penjaga yang Lelah
Maelis telah berdiri selama 77 tahun. Ia tidak pernah makan, tidak pernah duduk, tidak pernah berkedip lebih dari satu detik.
Tapi kini, tubuhnya mulai retak. Tidak oleh waktu, tapi oleh kerinduan.
“Aku ingin mengenalmu, Aneth. Aku ingin hidup sebagai ayahmu, bukan sebagai bayanganmu.”
Dan untuk pertama kalinya... Maelis menutup mata. Gerbang bergetar.
---
Bab 7: Aneth Mengambil Tempat
Sebelum gerbang terbuka penuh, Aneth melangkah maju. Ia berdiri di posisi ayahnya. Ia menutup matanya — bukan untuk tidur, tapi untuk melihat ke dalam dirinya sendiri.
Ia melihat segala kemungkinan: hidup sebagai gadis biasa, mencintai, menua, mati.
Dan ia memilih... menjaga.
---
Bab 8: Dunia yang Tak Menyadari Pengorbanan
Di lembah, bunga kembali mekar. Cuaca kembali ramah. Anak-anak kembali bermain. Tapi tidak ada yang tahu bahwa di puncak, ada seorang gadis berdiri tak bergerak, menahan kehancuran dengan diam.
Kadang, seseorang lewat dan bertanya, “Apa yang kau jaga?”
Aneth hanya tersenyum, tapi tidak menjawab.
Karena penjaga sejati tidak butuh pengakuan. Hanya keyakinan.
---
Bab 9: Surat dari Ayah
Sebelum Maelis pergi, ia meninggalkan satu surat dalam batu. Surat itu hanya bisa dibaca saat matahari menyentuh batu pada titik tertentu — dan itu hanya terjadi sekali setahun.
Isinya hanya satu kalimat:
> “Maaf aku tidak pernah memelukmu. Tapi aku telah memeluk dunia agar kau bisa hidup.”
---
Bab 10: Gerbang yang Tidak Pernah Dibuka
Seribu tahun kemudian, gerbang itu masih berdiri. Kadang-kadang, seseorang bermimpi tentangnya. Kadang legenda dikisahkan kembali.
Tapi yang tidak berubah adalah kenyataan ini:
Ada seseorang di sana, yang tidak tidur. Yang memilih diam, agar dunia tetap bersuara.
Dan selama masih ada seseorang yang rela berjaga tanpa nama... gerbang itu akan tetap tertutup.
---
Post a Comment for " Penjaga Gerbang yang Tak Pernah Tidur"