Pedagang yang Menjual Langit

 “Pedagang yang Menjual Langit”

---

Bab 1: Kota Tanpa Langit

Di kota bernama Karensa, langit tidak pernah terlihat. Asap dari pabrik, iklan digital raksasa, dan balon-balon promosi menutup semuanya. Generasi muda bahkan tak tahu langit itu apa.

Sampai suatu hari, datang seorang pria asing mendorong gerobak tua. Di atasnya ada papan bertuliskan:

> “Langit dijual. Potongan kecil, bisa dibawa pulang.”



Orang-orang menertawakannya. Tapi seorang anak kecil, bernama Meli, bertanya, “Apa warna langit, Tuan?”

Pedagang itu menjawab, “Warnanya tergantung isi hatimu.”


---

Bab 2: Langit Dalam Stoples

Gerobak itu dipenuhi ratusan stoples kaca. Di dalamnya—potongan-potongan cahaya berkilau seperti serpihan surga. Beberapa biru, beberapa merah jingga, dan satu atau dua... keemasan.

“Berapa harganya?” tanya Meli.

“Yang ini?” si pedagang menunjuk stoples kecil biru pucat. “Satu mimpi yang belum kau wujudkan.”

Meli menukar impiannya menjadi penari — dan mendapat stoples langit.

Ketika ia membukanya... sepotong kecil langit muncul di kamarnya.


---

Bab 3: Kegilaan Dimulai

Kabar menyebar. Orang-orang mulai berdatangan. Mereka menukar rasa cinta, kenangan indah, bahkan masa depan mereka… demi potongan langit.

Seorang pebisnis berkata, “Buatkan saya satu gedung penuh langit!”
Seorang penyair menangis, “Bolehkah saya menyentuh matahari?”
Seorang ibu bertanya, “Bisakah langit mengembalikan anak saya yang hilang?”

Pedagang hanya menjawab: “Semua bisa. Tapi tidak semua boleh.”


---

Bab 4: Kota yang Mulai Terangkat

Langit kecil di rumah-rumah warga memengaruhi realitas. Ruangan menjadi lebih tenang, bunga tumbuh tanpa air, dan suara manusia menjadi lembut saat berbicara di bawah cahaya biru.

Namun… tanah kota Karensa perlahan mulai terangkat ke atas. Tak ada yang sadar. Bangunan menjadi ringan, orang-orang tidak lagi berpijak pada kenyataan.

Pedagang itu tersenyum… tapi matanya kosong.


---

Bab 5: Meli Mencari Ulang Mimpinya

Meli, kini tidak bisa menari. Kakinya lemah — seperti telah ditukar.

Ia datang pada si pedagang dan memohon, “Ambil kembali langitnya, kembalikan mimpiku.”

Pedagang menjawab, “Tidak ada pengembalian. Hanya pertukaran lain.”

“Apa yang bisa kupertukarkan?”

“Kesedihanmu. Jika kau rela melupakan alasan mengapa kau menangis, aku akan memberimu satu potong langit terakhir.”


---

Bab 6: Langit yang Tak Bisa Dijual

Ketika Meli membuka stoples terakhir itu, tak ada apa-apa di dalamnya. Hanya pantulan wajahnya sendiri.

Ia menatap langit kosong dan sadar: langit tidak pernah bisa dimiliki. Ia hanya bisa disaksikan, dibagi, dan dirindukan.

Ia bertanya, “Lalu siapa kau sebenarnya?”

Pedagang menjawab, “Aku penjaga dari segala yang tidak boleh dimiliki. Keindahan, waktu, dan langit.”


---

Bab 7: Kota yang Jatuh

Karensa kini terapung di udara. Warga sibuk dengan langit-langit pribadi mereka. Tapi tanah di bawah mulai menghilang.

Akhirnya, langit mereka menjadi penjara. Tak ada jalan turun.

Meli, yang satu-satunya menyadari, berteriak: “Kita harus mengembalikan semuanya!”

Tapi mereka tertawa. “Langit milik kita! Kita membelinya!”


---

Bab 8: Pengorbanan Terakhir

Meli memutuskan mengumpulkan semua langit palsu yang bisa ia temukan. Ia berjalan rumah ke rumah, meyakinkan mereka untuk menyerah.

Setiap kali seseorang menyerahkan langitnya, mereka mendapatkan kembali sesuatu: cinta lama, kenangan masa kecil, semangat hidup.

Akhirnya, Meli mencapai atap kota. Ia melempar semua stoples ke udara. Cahaya membubung, dan untuk pertama kalinya… langit asli terlihat.


---

Bab 9: Pedagang yang Menghilang

Pagi itu, gerobak tua di sudut kota hilang. Hanya tersisa selembar kertas yang ditempel di tiang:

> “Langit bukan untuk dijual. Jika kau mencoba memilikinya… kau kehilangan dirimu sendiri.”



Dan di langit… ada awan berbentuk seperti seorang gadis menari.


---

Bab 10: Langit di Dalam Diri

Kini, kota Karensa bisa melihat langit. Mereka belajar berhenti sejenak, memandang ke atas, dan mengingat bahwa keindahan sejati adalah yang tidak bisa dibungkus, tidak bisa dijual, dan tidak bisa dipaksa hadir.

Meli menari kembali. Tidak di panggung. Tapi di jalan-jalan, di hati anak-anak, di senyuman orang asing.

Karena kini, langit bukan lagi sesuatu di atas kepala mereka.
Langit ada di dalam diri mereka sendiri.


---

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI
PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG UNTUK KEPENTINGAN PENDAFTARAN ADSENSE

Post a Comment for " Pedagang yang Menjual Langit"

home