“Jam yang Menyimpan Detik Orang Mati”
“Jam yang Menyimpan Detik Orang Mati”
---
Bab 1: Toko Jam yang Tidak Pernah Buka
Di sudut kota yang tidak pernah tercantum dalam peta, terdapat sebuah toko jam kecil yang jendelanya selalu tertutup tirai hitam. Di depan pintunya, ada papan kayu yang bertuliskan:
> “Tutup sampai seseorang benar-benar membutuhkan waktu.”
Warga kota menganggapnya toko palsu. Tapi seorang bocah bernama Eiran—yang kehilangan ayahnya karena kecelakaan—menganggapnya sebagai harapan terakhir.
Ia mengetuk pintu... dan untuk pertama kalinya dalam 23 tahun, pintu itu terbuka.
---
Bab 2: Penjaga Toko Tanpa Bayangan
Toko itu penuh jam. Ada jam dinding, jam saku, jam pasir, dan jam yang berdetak mundur. Di tengah ruangan, duduk seorang lelaki tua dengan rambut perak dan mata kuning menyala.
“Apa yang kau cari?” tanyanya, tanpa tersenyum.
Eiran menjawab, “Aku ingin satu menit lagi. Hanya satu menit... bersama ayahku.”
Penjaga itu menatapnya lama. “Kau tahu harganya?”
Eiran menggeleng.
“Detik milik orang mati... hanya bisa digunakan sekali. Dan setiap detik memiliki akibat.”
---
Bab 3: Harga dari Satu Menit
Penjaga toko memberikan Eiran sebuah jam saku kecil. “Ini berisi 60 detik terakhir dari waktu yang telah dihapus. Gunakan di tempat ayahmu mati. Detik akan berdetak mundur.”
Tapi ia menambahkan, “Begitu kau gunakan... kau tidak akan kembali sebagai dirimu yang sama.”
Eiran, tanpa ragu, mengambilnya. Ia pergi ke perlintasan kereta—tempat ayahnya meninggal tertabrak saat menyelamatkan anak kecil.
Ia membuka jam itu.
---
Bab 4: Menembus Waktu
Seketika, dunia menjadi abu-abu. Suara menghilang. Gerakan menjadi lambat. Ia melihat ayahnya berdiri di rel... dan anak kecil menangis di tengah.
Waktu berputar mundur. Detik demi detik, Eiran berjalan menuju ayahnya dan berteriak: “Jangan lakukan itu! Ada cara lain!”
Tapi ayahnya menatapnya, tidak mengenalinya. Dan tersenyum.
“Aku tahu kau akan datang,” katanya. “Kau sudah pernah di sini.”
---
Bab 5: Paradoks
Eiran baru sadar. Ia bukan menyaksikan masa lalu — ia adalah bagian darinya. Ia adalah anak kecil yang diselamatkan oleh ayahnya dulu. Waktu berputar seperti lingkaran yang tidak pernah benar-benar selesai.
Ia mencoba menghentikan ayahnya, tapi waktu mengunci gerakan. Dan detik terakhir berakhir saat kereta melintas.
Semuanya menjadi gelap.
---
Bab 6: Bangun di Dunia yang Berbeda
Ketika Eiran membuka mata, ia tidak lagi berada di perlintasan. Ia berada di dalam toko jam. Tapi toko itu kini kosong. Tidak ada jam, tidak ada penjaga.
Di cermin tua di sudut ruangan, ia melihat dirinya… dan terkejut.
Ia bukan anak kecil lagi, tapi lelaki dewasa — persis seperti ayahnya.
---
Bab 7: Penjaga Baru
Sebuah suara terdengar di benaknya: “Waktu bukan untuk dibalik, tapi untuk dihormati. Dan sekarang, kau yang harus menjaganya.”
Dan di bawah meja kasir, ada satu buku besar: Catatan Detik yang Tertinggal.
Setiap halaman berisi nama seseorang… dan satu momen yang ingin mereka ulang. Tapi jam untuk itu hanya boleh digunakan jika mereka siap menghadapi kebenaran.
Eiran membuka halaman kosong dan menulis:
“Waktu untuk Ibu.”
---
Bab 8: Pelanggan Pertama
Seorang wanita tua datang suatu malam. Ia berkata lirih, “Aku ingin bertemu anakku yang hilang sejak kecil. Hanya sekali.”
Eiran tahu detiknya tersedia. Ia menyerahkan jam dengan syarat: “Begitu kau melihatnya... kau harus melepaskan.”
Wanita itu menatapnya, menangis, lalu menghilang bersama detik-detik yang tak pernah kembali.
Tapi senyumnya... tetap tertinggal di toko itu.
---
Bab 9: Toko Jam yang Kini Terbuka
Kini, warga kota memperhatikan toko itu terbuka sesekali — tapi hanya untuk mereka yang benar-benar patah hati. Eiran tidak mencari keuntungan. Ia hanya menjaga waktu agar tetap adil.
Di pintu, kini tergantung papan baru:
> “Kami menjual detik yang tak bisa dibeli — hanya bisa dibayar dengan pengertian.”
---
Bab 10: Akhir dari Detik yang Hilang
Suatu malam, Eiran menemukan jam saku miliknya sendiri di atas meja. Detiknya masih 1. Ia bertanya-tanya, “Untuk siapa detik terakhir ini?”
Lalu ia mendengar suara lembut dari masa lalu:
> “Untukmu, anakku. Karena kau lupa bahwa kau juga berhak diselamatkan.”
Dan untuk pertama kalinya, Eiran membiarkan air mata jatuh. Ia duduk, memejamkan mata... dan kembali ke satu hari paling cerah dalam hidupnya: saat ayahnya menggendongnya, dan dunia terasa tidak terburu-buru.
---
Post a Comment for " “Jam yang Menyimpan Detik Orang Mati”"